Manado  

Debat Pilkada Manado Memanas: Boda dan LD Saling Serang, Sikap Tendensius Datau Jadi Sorotan

UpdateSulut.com,Manado – Debat terbuka empat pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Manado yang diselenggarakan oleh KPU Manado pada Jumat, 18 Oktober 2024, di Manado Convention Center berlangsung panas,

Terutama saat memasuki segmen kelima. Sesi tanya jawab antar calon Wakil Walikota menjadi titik sentral ketika calon Wakil Walikota nomor urut 2, Boby Daud, dan calon nomor urut 4, Lucky Datau, terlibat dalam adu argumen sengit.

Ketegangan berawal ketika Boby Daud, yang mengajukan pertanyaan kepada Richard Sualang, calon Wakil Walikota nomor urut 1,

Namun sebelum menyampaikan pernyataan Boby Daud memberikan ungkapan peribahasa yang entah itu mengarah kemana

“Mohon maaf, kami akan berupaya semaksimal mungkin bukan pemimpin yang merasa pintar tetapi pintar merasa,” ujar Daud, yang segera memancing reaksi dari audiens dan sesama calon.

Pernyataan ini tampaknya diduga menyinggung Lucky Datau, yang sejak awal debat telah melontarkan komentar menyudutkan.

Tidak lama kemudian, Lucky Datau mengambil alih panggung dengan pertanyaan terkait kesejahteraan, namun ia menyelipkan kritik soal banjir yang sering terjadi di Manado.

Datau mengklaim banjir disebabkan oleh buruknya infrastruktur, meskipun faktanya di lapangan hanya terjadi genangan air sementara akibat curah hujan tinggi.

Sikap tendensius Datau dalam membesar-besarkan masalah ini memicu protes dari penonton yang menganggap pernyataannya tidak berbasis fakta.

Tidak berhenti di situ, Lucky Datau juga menyerang Richard Sualang, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Walikota Manado, dengan menyatakan bahwa Sualang tidak paham tentang infrastruktur.

Datau mengatakan bahwa pembangunan drainase tidak perlu dilakukan, cukup dengan pengerukan atau normalisasi.

Pernyataan ini memancing sorakan tidak setuju dari hadirin, yang menilai sikap Datau tidak mencerminkan pemimpin yang intelektual.

Puncak ketegangan terjadi saat Lucky Datau secara tidak terduga menyerang Boby Daud, atasannya di Partai Amanat Nasional (PAN), terkait belum adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang penyerahan aset oleh pengembang perumahan.

“Anda-Anda ini kelihatannya bagaimana, e?” ujarnya dengan nada merendahkan

Sikap menyudutkan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Boby Daud adalah Ketua DPW PAN Sulut, sedangkan Lucky Datau adalah kader PAN yang pernah duduk di kursi DPRD Manado.

Meski PAN sudah mengeluarkan SK yang menetapkan Boby Daud sebagai calon resmi dari partai untuk Pilkada Manado, Lucky Datau tetap maju mencalonkan diri melalui jalur lain.

Sikap tendensius dan pernyataan meremehkan dari Datau semakin menguatkan kesan ketidaksolidan di internal partai.

Suasana debat sempat mereda ketika calon Walikota nomor urut 2, Beny Parasan, mencoba menenangkan situasi dengan candaan ringan sambil memijat punggung Boby Daud.

Namun, perseteruan verbal antara Daud dan Datau meninggalkan kesan negatif bagi penonton, yang melihat Lucky Datau memperlihatkan sikap kurang terpuji dalam forum yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan dan solusi.

Debat ini mengungkap dinamika internal dan eksternal yang mewarnai Pilkada Manado, di mana sikap dan etika para calon menjadi sorotan publik, terutama saat mereka dituntut untuk menunjukkan kapabilitas dan integritas sebagai calon pemimpin.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *