Louis Schramm Prihatin Peristiwa Mahasiswa PPDS Yang Meninggal Dunia Akibat Bullying

DEPROV,UpdateSulut — Kasus kematian dr. Adrian Rantung, dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), memicu reaksi keras dari kalangan parlemen.

Wakil Ketua Komisi IV sekaligus Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sulawesi Utara, Louis Carl Schramm, SH., MH., mengecam keras dugaan aksi perundungan (bullying) yang melatarbelakangi peristiwa tragis tersebut.

​Kepada ManadoTEMPO, Louis mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan dan mengusut tuntas kasus ini hingga ke akarnya. Ia menegaskan, jika praktik perundungan di lingkungan medis dibiarkan tanpa tindakan tegas, hal ini akan terus menjadi lingkaran setan yang diwariskan ke generasi berikutnya.

​”Jika aksi ini dibiarkan, perbuatan ini akan terus berulang ke generasi selanjutnya karena dianggap biasa seperti sebuah tradisi. Ini harus dihentikan agar tidak menjadi karma yang berlanjut dan memakan korban-korban lainnya,” ujar Louis dengan nada tegas.

​Ketua DPC Gerindra Kota Manado yang dikenal low profile ini menyatakan, jika benar penyebab kematian korban adalah akibat perundungan, maka tindakan tersebut sangat tidak manusiawi. Terlebih, korban dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi bagi masyarakat.

​”Ini persoalan nyawa seseorang. Dari informasi yang kami terima, dokter Adrian ini banyak membantu masyarakat. Belum lagi spesialisasi Anestesi merupakan bidang yang sulit dan sangat dibutuhkan di Sulawesi Utara saat ini,” jelasnya.

​Sebagai bentuk tindak lanjut nyata, Louis memastikan bahwa Komisi IV DPRD Sulut akan segera mengambil langkah tegas secara kelembagaan.

“Komisi IV dijadwalkan akan memanggil pihak RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dan jajaran rektorat Unsrat, khususnya Fakultas Kedokteran, dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk meminta klarifikasi menyeluruh,” ujarnya.

​Sebagaimana diketahui, dr. Adrian Rantung tengah menjalani tugas di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Malalayang, Manado. Peristiwa memilukan ini terungkap setelah korban diketahui tidak hadir untuk menjalani tugas jaga di rumah sakit.

​Merasa janggal, sejumlah rekan sejawatnya berinisiatif mencari keberadaan korban. Adrian akhirnya ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di dalam kamar kosnya pada Minggu, 5 Juli 2026.

​Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban merupakan peserta Program Pendidikan Spesialis (PPS) semester awal. Dugaan bahwa korban mengalami tekanan akibat perundungan mencuat kuat di kalangan publik.

​Meski demikian, hingga saat ini penyebab pasti kematian dr. Adrian Rantung masih misterius dan menunggu hasil pemeriksaan resmi. Di sisi lain, baik pihak kampus Unsrat maupun manajemen RSUP Prof. Kandou dilaporkan tengah melakukan investigasi internal secara mendalam untuk mengungkap fakta di balik tragedi ini.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *